Sabtu, 29 Juli 2017

Umm Ali Hidangan Timur Tengah yang Mirip Klappertaart


Ketika mendapat undangan icip-icip Umm Ali, yaitu hidangan penutup ala Timur Tengah, aku kontan menyanggupi. Kebetulan aku baru saja menamatkan buku tentang jejak kuliner Arab di Indonesia. Makanan ini juga disebut-sebut. Alhasil bikin ku penasaran. Nah, seperti apa sih Umm Ali ini?

Siang itu Jakarta begitu panas. Ketika kereta ku tiba di Stasiun Kota jam sudah menunjukkan pukul 14.00 lewat. Wah terlambat dari janji. Aku pun segera memesan ojek dan kemudian melaju kemacetan yang kala itu sudah dipenuhi oleh truk, menuju Hotel Aston Marina di kawasan Ancol. 

Kedatanganku disambut oleh public relation mas Paundra dan Vonny. Kami kemudian asyik mengobrol sembari menunggu hidangan Umm Ali dihidangkan. Perbincangan kami kemudian mengarah ke asal mula masakan ini dan kenapa makanan ini diperkenalkan oleh Aston Marina ke masyarakat luas.

Umm Ali merupakan makanan manis sebagai hidangan penutup. Hidangan ini sangat populer di Timur Tengah. Asal kudapan ini dari Mesir dimana ada beragam kisah tentang asal muasalnya. Umm Ali sendiri berarti Ibu Ali, jadi makanan ini dulunya dibuat oleh Ibu dari seorang anak bernama Ali di Mesir. Ada yang menyebutkan ia adalah istri pertama raja yang kemudian bersuka cita pasca istri kedua raja meninggal dengan membuat hidangan ini dimana kemudian dibagikan ke rakyat. Ada juga kisah dimana seorang raja menyukai hidangan yang dibuat oleh seorang Ibu miskin yang membuatnya dari sisa roti dan susu. Yang pasti sih hidangan ini enak dan populer. 

Bahan utamanya adalah roti yang direndam susu dan gula, kemudian ditambahkan kacang-kacangan seperti pistachio, almond, dan kismis, baru kemudian dipanggang. Tapi saat ini ada beragam versi dimana roti digantikan kocokan telur dan susu, isiannya juga beragam kadang ditambahkan ceri dan irisan kelapa muda.

Kalau menilik bentuknya sih, Umm Ali ini mirip dengan puding roti dan juga tidak jauh beda dengan klappertart Manado. Ketika kusantap perlahan-lahan, teksturnya lembut, manis, juga gurih berkat aneka kacang-kacangan. Hidangan ini bisa disantap panas-panas atau disantap dingin. Kalau aku suka dua-duanya. Tapi jika disuruh memilih, aku suka Umm Ali dingin karena seperti puding.

Oh makanan ini diperkenalkan ke masyarakat luas karena saat ini masyarakat menyukai hal-hal berbau kuliner. Jika makanan ala Jepang dan Korea sudah mendapat tempat di hati masyarakat, maka boleh dong mencobai makanan ala Timur Tengah. Hitung-hitung menambah khasanah dunia kuliner mancanegara. Selain itu, ada banyak wisatawan Timur Tengah di Jakarta, sehingga mereka bisa melepas rasa rindu masakan kampung halaman dengan menyantap hidangan Umm Ali. 

Umm Ali agak mirip Klappertaart Manado
Umm Ali di Jakarta bisa didapatkan di rumah makan yang menyajikan Timur Tengah. Jika sedang ke Ancol, Kalian bisa icip-icip Umm Ali di Aston Marina dengan harga Rp 60 ribu per porsinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar