Jumat, 14 Juli 2017

Puas Bersantap Kepiting di Balikpapan


Satu hal di antara banyak hal yang berkesan bagiku tentang Balikpapan dan Tarakan adalah masakan kepitingnya. Wow mengagumkan dari segi varian bumbunya dan juga rasanya. Untuk menyantap masakan satu ini lupakan gengsi terlihat gembul. Kapan lagi bisa bersantap beragam kepiting lezat dengan puas kalau tidak di sini.

Saya baru dua kali menginjak kota Balikpapan. Kota ini menurutku jauh lebih ramai dibandingkan ibukota provinsi Kalimantan Timur yaitu Samarinda. Saya suka konsep kedua kota ini, yang satu kota bisnis dan pusat perdagangan, kota lainnya sebagai pusat pemerintahan. Saling melengkapi.

Ketika berkunjung kali pertama ke kota ini saya memang tidak sempat menyantap kepiting. Malahan kami pesta durian dan juga sempat mendapatkan durian hutan. Berhubung saya tidak doyan durian ya hanya memerhatikan para atasan asyik menikmati durian di pedagang tepi jalan.

Kepiting baru kunikmati pasca berlibur ke Derawan. Selepas asyik bermain air di Derawan, kami pun mendarat ke Tarakan. Di sini kami bersantap kepiting tahap pertama. Selanjutnya, kami kembali memanjakan lidah bersama kepiting di Balikpapan. Tapi yang kedua ini lebih ke urusan buah tangan.

Oleh karena kisahnya sudah lebih dari lima tahun silam, ijinkan aku memerah ingatanku.

Norman, pemimpin acara jalan-jalan, mengajak kami bersantap makan siang. Nama tempat makannya RM Kepiting Saos Kenari. Masa itu tempatnya belum terlalu luas, hanya ada beberapa meja dan bangku dengan interior sederhana. Meski demikian, rumah makannya nampak rapi dan bersih.

Sebelumnya Norman telah menelpon rumah makan tersebut sehingga saat kami tiba, tidak lama kepiting dengan uap yang masih mengepul itu diantar ke meja.

Melihat pemandangan kepiting berarak-arak di meja membuat perut saya seperti genderang. Uap mengepul menyebarkan aroma yang sedap, semakin menerbitkan air liur. Wah tak sabar rasanya memulai acara makan.

Di depan saya terhidang kepiting goreng dan kepiting saus lada hitam. Agak jauh terdapat kepiting saus asam manis dengan saus kental berwarna merah plus irisan bawang bombay.

Pemandangan kepiting saus lada hitam paling provokatif. Sausnya berwarna hitam menjadi tempat si kepiting berenang. Harum ladanya mengusik. Wah sepertinya pedas nih. Pedas-pedas lada yang tidak semenggigit cabe rawit.

Cangkang kepitingnya relatif mudah dibuka. Di meja juga disediakan alat pembuka cangkang. Wah di dalam cangkang, daging kepiting yang putih dan gendut mengundang selera. Hemmm lembut dengan bumbu merasuk. Pedas dan nikmat.



Giliran kepiting goreng jadi sasaran. Penampakannya paling sederhana. Hanya kepiting tanpa bersaus. Aroma kepitingnya lembut. Dagingnya agak sedikit menempel di cangkang.

Di luar ekspektasi kepiting goreng ini paling kepiting. Enak banget. Tanpa saus, kenikmatan daging kepitingnya malah menonjol.

Lantas bagaimana dengan kepiting saus asam manis. Terus terang saya kurang doyan makanan menggunakan saus asam manis. Tapi paduan kepiting dan saus asam manis masih nyambung dan sedap. Lebih enak ini daripada kakap ataupun fuyunghai. Daging kepiting memang enak diolah apa saja. Di antara ketiga jenis varian kepiting tersebut, saya beri nilai tertinggi pada kepiting goreng.

Di rumah makan ini kepitingnya ada tiga jenis, kepiting jantan, kepiting betina dan kepiting cangkang lunak. Terkadang juga ada kepiting kenari yang berukuran besar. Masakannya bisa direbus saja, diberi saus asam manis, digoreng, saus mentega, saus tiram, pedas manis, dan saus lada hitam. Untuk harga sih masih wajar dan biasanya kepiting memang disantap ramai-ramai.

Sebenarnya saya ingin langsung membungkus untuk oleh-oleh. Tapi kata teman mending pesan di Balikpapan dan diambil di bandara. Eh benar sewaktu di bandara, pesanan kepiting yang sudah dikemas sudah siap. Tidak ada bau amis.

Di Jakarta saya berpesta kepiting lagi berdua. Kepiting saus lada hitam dan menyusul kepiting saus tiram. Wow sedapnya!

Gambar pernah saya gunakan di blog dewipuspasari dan kompasiana.com/dewi_puspa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar