Kamis, 15 September 2016

Klappertaart: Si Legit Lembut dari Manado




Kenal masakan Manado dari kawan dekat paman yang dulu sering bertandang ke rumah. Lantas kemudian mendapat partner kerja dari Manado yang suka menraktir masakan Manado seperti nasi kuning khas Manado dan bubur Tinutuan. Nah suatu ketika ada rekan dari kantor cabang Manado yang membawakan oleh-oleh seporsi besar klappertaart yang kemudian kami santap rame-rame. Wah karena masih fresh maka hidangan pencuci mulut ini benar-benar nikmat. Lembut, manisnya pas, dan royal dengan isian kelapa muda dan kismis.

Kata Pak Ruddy, partner kerja saya yang super baik, lebih baik jangan meminta lagi oleh-oleh klappertaart karena susah membawanya di pesawat. Oooh gitu, waduh saya jadi nggak enak. Iya sih perjalanan Jakarta-Manado bisa tiga jam sendiri, kasihan juga kalau pegal memangku klappertaart. Wah setelah itu kalau ada rekan dari kantor cabang Manado menanyakan mau minta dibawakan oleh-oleh apa, saya menjawab yang mudah-mudah saja mencari dan membawanya. 

Tentang klappertaart, masakan ini bisa dibilang mirip custard. Nah setelah saya baca dari beberapa referensi, hidangan manis dari Manado ini terpengaruh oleh masakan Eropa, yaitu  hidangan Belanda. Klappertaart berasal dari bahasa Belanda yang berarti kelapa karena bahan utamanya memang kelapa. Rasanya juga khas Eropa, lalu mendapat sentuhan dari Manado dengan kacang kenari dan bubuk kayu manis.

Klappertaart ini terbuat dari adonan telur, tepung terigu, susu, gula, mentega yang diaduk rata. Lantas ditambahkan irisan kelapa muda, kenari panggung dan taburan kismis. Selanjutnya adonan ini  didihkan lalu dituangkan ke cup yang telah dilapisi  kertas aluminum dan  ditaburi kayu manis bubuk. Baru kemudian didinginkan.

Setelah dingin, teksturnya tidak sekeras puding dari agar-agar. Lembut, sehingga disantap dengan menggunakan sendok. Rasanya itu begitu mewah. Saya paling suka jika isian kelapa muda dan kismisnya begitu banyak.

Di Jakarta beberapa restoran Manado yang lengkap umumnya menyediakannya, seperti Beautika di jalan Abdul Muis. Ada juga penjual khusus klappertaart seperti Hannah’s Klappertaart yang merupakan usaha kue milik istri Kasino (alm), pelawak legendaris Warkop DKI. Saat ada Jakarta Food Street Festival juga ada stan Pingkan yang menjajakannya. Harganya memang sejak dulu mahal yakni mencapai belasan ribu untuk per-cupnya. Tapi untuk rasa, wah...memang mantap deh.  

Kalau saya lebih suka yang versi original. Ternyata selain dimasak dengan cara dididihkan, juga ada versi panggang sehingga teksturnya lebih padat. Saat ini juga ada klapertaart modifikasi dengan rasa blueberry, cokelat, keju, rum raisin, dan durian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar