Kamis, 26 Juli 2018

Guru Tata Boga Bikin Ku Suka Kulineran


Apa beda masakan dipanggang dan dibakar? Apa Kalian juga tahu beda makanan yang dikukus dan ditim? Aku dulu banyak belajar istilah dan teknis memasak dari guruku saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia salah satu guru favoritku.


Aku lupa nama guru perempuan yang usianya paruh baya. Ia guru yang menarik dan darinya aku banyak mendapat wawasan kulineran.

Pelajaran tata boga itu kuperoleh saat aku duduk di kelas dua SMP. Pelajaran ini hanya satu semester, semester berikutnya diisi dengan tata graha.

Pelajaran memasak ini favoritku. Pasalnya aku sejak kecil suka akan makanan dan dari dulu aku suka mengipling resep makanan dan tips-tips seputar makanan. Aku juga mengumpulkan novel tentang makanan. Intinya, topik makanan itu sungguh menyenangkan.

Pelajaran memasak biasanya pada jam terakhir. Pagi-pagi kami menyiapkan bahan memasak di dapur yang ada di kelas paling belakang. Oh iya ruangan memasak itu konon dekat dengan kamar mayat rumah sakit yang persis bersebelahan dengan sekolahku. Alhasil aku enggan jika sendirian ke ruang memasak tersebut.

Kelas memasak terbagi menjadi teori dan praktik. Teorinya itu menarik. Kami diajarkan perbedaan cara memasak kemudian istilah-istilah yang umum digunakan di dunia masak-memasak. Banyak hal yang menambah wawasanku.

Kemudian tibalah waktu praktik memasak. Kata kakakku resepnya tak jauh berbeda dengan yang pernah ia praktikkan sebelumnya. Ternyata memang tak banyak berbeda. Kedua kakakku dulu juga sekolah di tempat yang sama denganku.

Aku dikumpulkan dengan tiga orang lainnya dalam satu kelompok. Menariknya kelompokku terbagi atas dua perempuan dan dua laki-laki. Kelompok lainnya rata-rata pria semua dan perempuan semua, kelompokku istimewa.

Kami diajarkan membuat kue semacam nagasari alias kue pisang berselimut hunkwe. Kemudian kami membuat puding lumut yang lumutnya terbuat dari telur dan daun pandan suji.

Apa lagi ya? Oh ya kami membuat martabak manis, kastengel, cake pisang, kue batang keju dan sebagainya. Pengalaman paling seru itu waktu bikin kastengel. Sebagai ganti keju kami menggunakan kaldu ayam bubuk dan rasanya ternyata mirip dengan keju. Kue kami matang sempurna dan aku dapat nilai delapan.

Nilai raporku untuk tata boga berakhir di angka sembilan. Aku senang sekali. Sejak itu aku jadi makin suka dengan dunia kulineran.

Aku pengin menulis tentang sejarah makanan dan kultur memasak. Hemmm kapan ya? 

2 komentar:

  1. Satu bukti ya hobi jadi profesi 👍

    Salut, dapat nilai 9 ...
    Selamat ya dan giat berlatih, siapa tau kelak jadi pengajar juga seperti guru panutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe pengin nulis buku tentang kulineran tapi bukan resep masakan.

      Hapus