Rabu, 20 Desember 2017

Cukup dengan Borobudur dan Mangut Aku Jatuh Cinta pada Magelang



Candi Borobudur dari dulu masuk dalam kunjungan wisata wajib milikku. Sayangnya baru saat dewasa aku dapat mengunjunginya dan menikmati kebesarannya. Situs ini membuatku terpesona akan kebesaran nusantara pada masa silam. Berkunjung ke Borobudur dan kemudian menikmati nasi hangat beserta masakan mangut pun kemudian membuatku jatuh hati pada Magelang. Suatu saat aku akan kembali ke Magelang, menikmati keindahan alam dan cagar budaya lainnya.

Aku membujuk pasangan mengantarkanku ke Candi Borobudur. Sudah dua hari kami ke Jogjakarta. Kami berkeliling Jogjakarta dan kawasan sekitarnya dengan menyewa sepeda motor. Kini aku membujuk pasanganku untuk membawaku ke Candi Borobudur, toh situs ini tak jauh-jauh amat ditempuh dengan kendaraan bermotor. Maka selama satu setengah jam kemudian kami pun berkendara dan tiba di situs bersejarah yang namanya kondang dan mendunia.

Saat kemudian memasuki pelataran dan melihat Candi Borobudur dari kejauhan, wah rasanya senang luar biasa. Dengan tiket Rp 30 ribu aku bisa memasuki kawasan bersejarah yang kukenal sejak sekolah dasar. Seperti anak kecil, aku melangkah dengan riang dan cepat, setengah berjalan dan berlari.

Akhirnya aku tiba di kaki Candi Borobudur. Inilah candi yang dibangun pada masa kebesaran jaman Hindu, oleh dinasti Mataram Kuno, dinasti Syailendra. Wuihhh melihat bangunannya yang kokoh dan megah ini aku pun berdecak kagum.

Kini aku merasa lebih tenang dan ingin menikmati keindahan candi dengan lebih perlahan-lahan. Menyesapi keindahan reliefnya yang hingga kini masih terawat dengan baik sejak bangunan ini dipugar.

Aku sendiri tergolong awam akan relief. Namun, relief di Borobudur bisa kukira-kira apa maknanya. Sebagian memang agak membingungkan, tapi di bagian lainnya bisa kupahami. Aku berjalan lambat kemudian menapaki bagian di atasnya. Stupa-stupa tersebut nampak megah sekaligus nampak religius dan khidmat. Agak disayangkan melihat beberapa pengunjung asyik berpose hingga menyentuh dan menduduki stupa. Wah sayang sekali demi foto selfie dan welfie mereka melakukan hal yang kurang pantas terhadap situs bersejarah yang juga disucikan.

Akhirnya aku tiba di atas. Aku bisa menikmati keindahan alam Magelang yang subur dan memiliki bentang alam yang menakjubkan. Sayangnya waktu liburanku terbatas sehingga aku baru bisa mengunjungi Candi Borobudur.


Selepas mengeksplorasi Candi Borobudur, aku hanya dapat melihat Candi Mendhut dari luar. Duh rasanya ingat masuk jika tidak ingat kami masih harus kembali ke Yogyakarta dan pasangan yang menyetir nampak kelelahan dan kelaparan.  Kami berdua memang mulai terasa lapar setelah jauh-jauh berkendara dan berjalan mengelilingi kompleks Candi Borobudur. Kami pun menuju tempat makan di sekitaran Magelang yang menyajikan menu khas setempat, yaitu aneka mangut.

Di sini mangut yang disajikan rata-rata berbahan ikan sungai dan lele. Ada mangut lele dan mangut ikan beong. Aku memilih mangut lele yang disajikan dengan nasi hangat.

Mangut itu masakan berkuah yang gurih pedas. Ia dibuat dari santan dengan bawang merah, bawang putih, cabai, dan aneka rempah-rempah lainnya. Rasanya sedap dan terasa hangat di kerongkongan. Hemmm enaknya dan kenyang. Kami berdua merasa puas.

Di Magelang, aku baru menikmati keindahan Candi Borobudur dan menyesap wawasan yang kudapat dari perjalananku di sana. Hanya Candi Borobudur dan Mangut Lele yang baru kupandang dan kunikmati. Namun, kedua hal ini membuatku jatuh cinta pada Magelang sehingga membuatku menyimpan asa untuk kembali ke sana suatu hari nanti untuk mengeksplorasi pesona alam, budaya, juga mereguk banyak wawasan edukatif dari situs sejarah yang banyak tersebar di Kabupaten Magelang.

Ket Gambar dokumen pribadi, pernah dimuat di dewipuspasari.net dan openrice akun @puspa00



Tidak ada komentar:

Posting Komentar