Kamis, 17 Agustus 2017

Sego Liwet Sego Wong Solo


Ke Solo alias Surakarta tanpa mencicipi Sego Liwet atau Nasi Liwet rasanya kurang lengkap. Saat ini Nasi Liwet agak lebih mudah dijumpai, di Jakarta pun tersedia. Apa sih bedanya Sego Liwet dengan nasi pada umumnya?

Kami baru saja cuci muka dan gosok gigi ketika temanku menghampiri penginapan kami dan mengajak kami bertiga untuk mencobai Sego Liwet. Kami yang waktu itu masih asyik menikmati teh hangat pun batal menunggu nasi goreng matang. Kami seperti anak ayam digiring oleh kawan kami menuju seorang penjual Sego Liwet yang dikeliling oleh fansnya. Di sekelilingnya ada berbagai panci berisi sayuran dan lauk-pauk pelengkap Nasi Liwet. Wah sebuah pemandangan yang menggiurkan, ada Opor Ayam, Sayur Labu, Tempe Bacem, Sambal Merah yang  berminyak, dan Areh atau kepala santan/santan kental. Aku berdecak dan tak sabar menunggu giliranku untuk memesan.

Rasa Sego Liwet itu dominan gurih berkat sumbangan nasi yang dimasak dengan santan plus imbuhan areh. Tambahan Sayur Labu Siam, Opor Ayam dan Sambal Merah membuat acara sarapan ini terasa luar biasa. Sedap!!!


Sego Liwet sendiri memiliki rasa yang lembut. Jika di Solo biasanya Sego Liwet dimasak dengan santan seperti nasi uduk, di daerah Jawa Barat juga ada yang menyebut masakan sebagai Nasi Liwet tapi prosesnya berbeda. Mereka memasukkan berbagai bumbu ke nasi yang ditanak seperti cabai, bawang, daun serai, ikan asin dan sebagainya sehingga hasilnya seperti nasi berbumbu. Kalau aku sih suka dua-duanya, tapi lebih mantap yang Sego Liwet khas Solo. Gurihnya itu lho yang dicari.

Ketika sebuah acara kuliner nusantara dihelat di Mal Kelapa Gading, Sego Liwet masuk menjadi salah satu menu andalan sebuah stan. Temanku memesannya dan ku tersenyum karena terbayang bagaimana kami dulu berempat kekenyangan sarapan Sego Liwet. Sebuah perjalanan backpackeran ke Surakarta yang menyenangkan waktu itu.

Catatan: Gambar kedua pernah kugunakan di blog dewipuspasari.net


Tidak ada komentar:

Posting Komentar