Jumat, 21 Juli 2017

Jajanan Tradisional Memperkental Nuansa Betawi di Museum Si Pitung


Ketika berkunjung ke Museum si Pitung yang terletak di kawasan Marunda, aku tidak punya ekspektasi khusus apa yang bakal kutemui di sana. Ternyata tempatnya lumayan jauh dan agak susah bila diakses dengan angkutan umum. Namun, museum ini lumayan terawat dibandingkan dengan cagar budaya lainnya di kawasan ini. Oh ya ada penjual jajanan Betawi di kompleks museum ini sehingga menambah semarak dan memperkental nuansa Betawi.

Si Pitung disebut-sebut Robin Hood-nya kaum Betawi. Cerita rakyat yang beredar ia kerap mencuri uang saudagar kaya untuk membantu perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda. Tapi kisah ini masih simpang-siur kebenarannya. Dan, rumah yang  dijadikan museum si Pitung diduga juga bukan kediaman si Pitung, melainkan saudagar yang pernah dirampoknya, tapi kemudian berkawan baik dengan si Pitung.

Nuansa Betawi memang terlihat di Museum si Pitung. Tapi di sini saya lebih ingin bercerita tentang kuliner Betawinya yang hadir di sini, yaitu Selendang Mayang, Kue Rangi, Kerak Telor, dan Bir Plethok.
Ada beberapa penjual di dalam kompleks museum ini. Rata-rata jajanannya ditawarkan Rp 5-10 ribu. Jarang-jarang kita bertemu makanan ini kecuali di Pekan Raya Jakarta atau di kawasan Kota Tua. Tapi ternyata beberapa di antara mereka bukan Betawi asli, melainkan pendatang yang mencari nafkah dengan berjualan makanan. Ya, tidak apa-apa sih, yang penting ada yang melestarikan kuliner tradisional.

Kue Rangi ini bentuknya mirip kue pancong atau kue serabi di Jawa Timur. Adonannya sederhana, yaitu berupa adonan tepung kanji atau tapioka atau juga disebut tepung sagu tani yang ditambahkan kelapa parut dan garam. Setelah itu adonan yang lengket seperti lem dituangkan ke cetakan dan dibakar dengan menggunakan kayu. Setelah bagian bawahnya mengering, baru deh dituangkan gula merah cair yang dikentalkan dengan tepung kanji. Rasanya? Gurih dan legit. Teksturnya kenyal-kenyal gitu sih.


 

 

Di dekat Bang Iwan, penjual kue Rangi, terdapat penjual es Selendang Mayang. Es ini cantik seperti selendang berwarna-warni. Bahan agar-agarnya dari tepung beras dan tepung hunkwe. Sebenarnya agar-agarnya rasanya tawar, berkat kuah santan yang manis maka rasanya jadi pas, tidak kemanisan. Penjual di sini menggunakan gula sirup berwarna merah dan masih ditambahkan susu kental manis. Padahal kalau menurut saya sih lebih enak dengan menggunakan kuah santan dan gula merah.

Berikutnya adalah jajanan paling populer di Pekan Raya Jakarta. Apalagi kalau bukan Kerak Telor. Saya kenal makanan ini kali pertama di PRJ. Makanan yang juga disebut pizzanye Betawi ini menurutku mengenyangkan karena di dalamnya bukan hanya telur, tapi ada beras sangrai, ebi atau udang kering, bawang merah goreng, dan serundeng. Cita rasanya unik sih, ada gurihnya kelapa dan aroma sangrai yang khas. Teksturnya juga khas, telur dadarnya agak lebih keras dibandingkan dadar biasanya. Biasanya telur yang digunakan adalah telur bebek, jika tidak ada juga bisa menggunakan telur ayam.

Satu lagi yaitu Bir Plethok. Meskipun namanya bir, minuman ini tidak mengandung alkohol, bahkan malah menyehatkan. Bir plethok ini menggunakan rempah-rempah sebagai bahannya. Bahannya utamanya adalah jahe, daun serai, kapulaga, cengkeh, kayu manis, kayu secang, pala dan gula pasir. Kayu secang berkontribusi dalam memberikan warna merah secara alami yang cantik. Ketika diminum maka badan akan menjadi hangat. Tenggorokan juga hangat sehingga cocok diminum saat hawa dingin malam hari atau pasca hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar