Selasa, 27 Juni 2017

Perpaduan Petis dan Kaldu Bikin Tahu Campur Makin Yahud


Kepulan uap menguar dari wadah besar berisi kaldu daging. Guyuran kuah panas itu kemudian bercampur dengan bumbu dan petis yang terletak di dasar mangkuk. Guyuran kedua membuat isian seperti potongan daging sapi, mie, perkedel singkong, selada air, dan tahu goreng mengapung-apung. Seporsi tahu campur pun siap disantap jelang petang.


Tahu campur ini termasuk kuliner daerah yang selalu kukangeni dan kucari-cari jika pulang ke kampung halaman di kota Malang. Biasanya sekitar pukul 16.00-16.30 ada pedagang keliling yang menawarkan menu ini. Tapi jika terlewat, maka bisa mencarinya di berbagai ruas jalan, termasuk di jalan Kaliurang.




Kuah tahu campur memegang peranan utama dalam hal rasa. Keunikan rasa tahu campur memang terletak pada rasa juga keragaman isiannya. Kaldu daging yang gurih menjadi berasa sedikit manis dengan tambahan aroma khas petis. Adanya selada air menyumbang rasa segar pada makanan ini.

Saya menyantap makanan sejenis sup ini dengan perlahan-lahan. Meskipun makanan ini berasal dari pedagang keliling, rasanya tetap nikmat. Daging sapinya yang berlemak terasa empuk dengan selintas rasa manis, sedangkan perkedel singkongnya memberikan ciri khas yang jarang ada di masakan lainnya. Mienya sendiri berkontribusi memberikan dampak kenyang. Alhasil pasca menghabiskan seporsi Tahu Campur ini perut terasa penuh. Biasanya mie yang digunakan adalah mie kuning, tapi kali ini diganti dengan mie putih alias bihun.

Meskipun penjual Tahu Campur di Malang cukup banyak, konon masakan ini berasal dari Lamongan, sebuah kota pesisir yang tak jauh dari Surabaya. Tapi masakan Jawa Timuran memang mirip-mirip dan yang bikin khas adalah keberadaan petisnya.

Petis memang lazim digunakan di beragam masakan khas Jawa Timuran. Bahan berbentuk pasta ini umumnya berasal dari udang, ikan, atau kupang yang mengalami proses fermentasi hingga berwarna cokelat gelap atau hitam. Petis ini kaya protein dan memiliki rasa dan aroma yang khas. Bahan yang paling umum digunakan adalah petis udang, tapi di beberapa daerah ada juga yang membuat petis dari daging sapi.

Tahu Campur memang belum sebeken Soto Ayam ataupun Rawon. Masakan ini masih jarang ditemui di rumah makan Indonesia, paling-paling adanya di rumah makan Jawa Timuran dan masih kalah populer dengan Rujak Cingur ataupun Bebek Madura.

Saya bayangkan Tahu Campur ini menjadi menu yang umum di kedai-kedai kekinian di kota-kota besar. Warna-warni isiannya ditonjolkan dengan ditambahkan hiasan tomat merah plus peterseli dan ditaruh dalam mangkuk yang indah. Wah jika itu terjadi maka masakan ini bisa jadi bakal disukai berbagai kalangan, seperti layaknya Siomay dan Mie Ayam.


2 komentar:

  1. hmm yummy tahu campurnya :D jd mendadak lapar malam" liat postingan makanan lezat begini wkwkwk :"

    BalasHapus