Jumat, 24 Februari 2017

Yuk Bersama-sama Lestarikan Kuliner Khas Daerah



Ketika ku membayangkan kampung halaman yang terbersit di benak adalah aneka santapan yang lezat, dari Rawon, Tahu Campur, Kupang, Angsle, Ronde, Bakso dan Mie Pangsit yang segar. Dari segi kudapannya, ada aneka Keripik Buah, Pai Apel, Sari Apel, dan aneka varian Keripik Tempe. Sedap!!!

Malang yang terletak di Jawa Timur memiliki beragam kuliner. Meskipun lokasinya tak jauh dari Blitar, Kediri, Sidoarjo, Pasuruan, dan Surabaya, akan tetapi tiap-tiap daerah tersebut memiliki kekhasan tersendiri dari segi bumbu, rasa, dan penyajian. Itu baru beberapa daerah di Jawa Timur, belum lagi aneka sajian dari daerah-daerah lainnya. Sungguh beragam dan kayanya masakan nusantara. Sebuah harta karun yang wajib dijaga oleh generasi penerus, oleh karena makanan dan minuman bukan hanya pengisi perut dan pemuas dahaga, di di baliknya juga terdapat budaya, sejarah, dan cerita. Akan sangat disayangkan jika masakan tersebut suatu ketika hanya menjadi sebuah cerita dan menjadi barang langka.

Di Malang sendiri sudah ada beragam kuliner yang mulai sulit didapatkan, begitu juga di Surabaya. Saya yakin di daerah seperti Jakarta dengan Betawinya dan daerah-daerah lainnya juga mengalami problema yang sama yaitu adanya makanan khas daerah yang mulai langka atau tidak dikenal oleh generasi muda sekarang.

Ada banyak contoh makanan yang sudah mulai sulit ditemukan di kota Malang dan Surabaya, contohnya adalah Semanggi, Ampyang, Tumis Lurjuk, Bothok Tolo/Sarang Tawon, kue Moho, Es Gandul Tali Merang, Orem-Orem, Mendol Tempe, Sate Komoh dan masih banyak lagi. Bahkan penjual Rujak Cingur dan Kupang pun juga saat ini sudah mulai sulit dijumpai.

Bagi yang belum tahu masakan tersebut, akan saya kupas sekilas. Semanggi adalah sejenis salad dan mirip pecel dengan bahan utama adalah daun Semanggi yang direbus kemudian ditambahkan tauge dan diguyur dengan bumbu campuran kacang, gula merah, petis, dan ketela. Sedangkan Ampyang adalah kue dari karak nasi (nasi yang dikeringkan) kemudian digoreng dan dicampur dengan cairan gula merah. Bothok Tolo/Sarang Tawon termasuk kuliner ekstrim dan tidak semua lidah mampu berkompromi. Saya pernah mencicipi dan rasanya unik, ada rasa asam manis yang khas. Tolo atau larva lebah dan sarangnya dimasak dengan aneka bumbu dan santan lalu dimasukkan daun pisang dan dikukus hingga matang.

Tumis Lurjuk atau Lorjuk merujuk pada tumis hewan laut yang masih satu keluarga dengan kerang. Agak mirip dengan kerang bambu dan sulit dijumpai karena hanya muncul pada musim tertentu. Lurjuk ini ditumis dengan bawang dan kecap. Orem-Orem agak mirip dengan Lontong Opor Ayam dengan ketupat dan ayam yang dimasak dengan kuah santan yang pedas dan ditemani Mendol dan tempe goreng. Mendol Tempe dibuat dari tempe yang dibiarkan agak lama sehingga agak masam kemudian ditambahkan cabe dan aneka bumbu lalu digoreng, biasanya jadi lauk menemani Pecel Sayuran. Sate Komoh itu sate daging dengan bumbu kemerahan yang sedap. Duhhh ini dulu makanan kegemaran masa kecil.

Tumis Lurjuk, masakan khas Surabaya yang mulai langka (sumber: Tribun)
Nah kalau Kue Moho itu kue dari tepung beras yang manis dan berserat. Lalu apa itu Es Gandul Tali Merang? Yang terakhir ini saya belum pernah mencobai dan hanya mendengar dari kisah Ibu. Ia dulu suka membeli es tersebut dan menurut Ibu es ini seperti es serut dengan rasa sirup atau kadang diberi buah-buahan lalu digantung dengan tali merang atau batang padi. Hemmm sepertinya unik. Konon es ini sudah ada sejak jaman perjuangan. Wah...wah...wah seru juga ya jika membahas makanan, karena umumnya ada filosofi dan cerita di baliknya.

Es Gandul Tali Merang (sumber: DetikTravel)


Lestarikan Kuliner Khas Daerah dengan Caramu

Jika ke Malang biasanya aku langsung berburu Rujak Cingur, Mie Pangsit, Bakso, Tahu Campur, Ronde, dan Rawon. Terkadang kakak ipar membelikan Jajan Campur seperti Cenil, Lupis atau Gatot Tiwul. Pulangnya membawa oleh-oleh untuk disantap sendiri atau dibagikan berupa Keripik Buah, Keripik Tempe, dan Sari Buah Apel. Ada perasaan was-was juga apabila suatu saat makanan kesukaanku yang mengingatkanku pada kampung halaman itu satu-persatu lenyap.

Kudapan favoritku yang mengingatkan akan Malang, yakni Keripik Buah, Pai Apel dan Keripik Telo

Rujak Cingur itu yang bikin sedap adalah petisnya dan cingurnya yang sering diganti dengan kikil sapi. Tahu Campur juga berbahan petis dengan daging sapi yang kenyal, perkedel singkong, selada air, mie kuning, dan tauge yang menghasilkan cita rasa gurih dan segar. Mie Pangsit ala Malang juga sedap dan segar dengan tambahan kerupuk pangsit.

Rujak Cingur Sedap

Rawon yang Gurih
Gatot Tiwul dengan Kelapa Parut dan Gula Merah/Gula Pasir
Kalau untuk Bakso wah rasanya sudah tidak perlu dijelaskan. Di dalam Bakso Malang biasanya ditambahkan aneka jerohan juga beragam Bakso dari Bakso Urat, Bakso Telur, hingga Bakso Goreng.  Rawon merupakan masakan yang unik karena berkuah hitam dari Keluwak. Untunglah aku saat ini sudah bisa memasaknya sendiri, jadi tidak was-was jika penjualnya suatu saat semakin berkurang. Kalau Ronde ini makanan berkuah jahe dengan isian bola-bola dari tepung ketan berisi kacang. Sedap deh. Jajan campur seperti Cenil, Lupis, Gatot, Tiwul biasanya disajikan dengan gula merah cair. Enak...enak...semuanya enak.

Ronde yang Nikmat
Dari semua masakan tersebut, tidak ada rekaman sejarahnya atau filosofinya. Sebenarnya sangat disayangkan. Bakso dan Mie Pangsit merupakan masakan yang terpengaruh oleh kultur Tionghoa namun telah disesuaikan dengan lidah masyarakat lokal oleh karena Bakso ala Tionghoa umumnya menggunakan daging babi dan tidak berbentuk bulat. Rawon yang dikenal sebagai black soup juga memiliki tanda tanya mengapa menggunakan keluwak. Darimana mereka tahu keluwak itu bisa diolah menjadi masakan?

Kita tidak perlu berputus asa. Semampang masih ada kuliner tradisional yang masih eksis, maka kuliner tersebutlah yang bisa menjadi fokus untuk dilestarikan. Caranya melestarikan pun juga berdasarkan kemampuan. Jika Kalian suka memotret dan menulis maka foto dan tulisan makanan tersebut bisa dibagikan ke media sosial, dibuat tulisan di blog atau dikirim ke media cetak, juga bisa direkam dalam bentuk video. Jika Kalian punya kenalan yang tahu resep masakan tradisional tersebut maka bisa dicatat dan dibagikan atau sekalian belajar memasak. Atau cara lainnya yaitu merekomendasikan makanan tersebut ke teman Kalian yang hendak berkunjung ke daerah Kalian. Bisa juga dengan cara membawakannya sebagai buah tangan.

Tentang buah tangan saya jadi teringat dengan sebuah situs yang menyediakan aneka buah tangan berupaka masakan khas nusantara. Namanya adalah Omiyago yang berasal dari bahasa Jepang Omiyage yang berarti buah tangan. Dalam situs ini pengunjung bisa membeli beragam kudapan atau makanan khas daerah yang dikemas menarik dan elegan. Harganya sih masih wajar dan pembayarannya selain lewat rekening bank dan kartu kredit juga menerima pembayaran tunai ketika barang diterima (COD).

Kemasan Produk Omiyago menarik  (sumber web Omiyago)

Waktu saya melihat-lihat produknya, di sana banyak masakan khas Malang dan Jawa Timur, juga ada Keripik Buah, aneka Sambal, dan juga Lurjuk yang langka itu. Wah bisa juga ide Omiyago, selain menawarkan buah tangan juga ikut melestarikan dan mengenalkan kuliner daerah. Dan yang cerdik selama ini kuliner daerah penyajiannya sebagian kurang menarik, di sini kemasannya nampak mewah.

Ada Sambal Lorjuk dari Surabaya (sumber web Omiyago)

Ada Keripik Buah Malang juga (sumber: web Omiyago)
Kalian bisa tuh menjadikan Omiyago yang memiliki tagline Buah Tangan On The Go jadi rujukan untuk membeli untuk disantap sendiri jika kangen akan kampung halaman atau mengirimkan buah tangan ke sahabat atau kenalan. Ada aneka Rendang juga. Sedangkan apabila Kalian setelah membeli buah tangan di Omiyago kemudian penasaran wujud daerahnya dan ingin mencicipi langsung dari daerah tersebut maka Kalian bisa mencari tahu di Telusuri yaitu situs tentang pariwisata Indonesia.

Web Telusuri


Yuk lestari kuliner khas daerah dengan caramuJ
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar