Sabtu, 03 September 2016

Sedapnya Tumpeng dan Filosofi Di Dalamnya


Tumpeng merupakan makanan khas Indonesia yang ada di berbagai penjuru nusantara. Umumnya tumpeng disajikan saat-saat istimewa seperti tujuhbelasan, peringatan ulang tahun sebuah institusi atau acara-acara penting.

Saat kecil tumpeng bukan sesuatu yang asing. Tumpeng relatif mudah dijumpai. Saat tujuhbelasan hampir selalu ada tumpeng begitu juga saat di rumah ada acara penting. Ya waktu itu kegiatan membuat tumpeng tidaklah merepotkan dan dianggap hal menyenangkan.

Berbeda dengan sekarang, orang semakin malas membuat tumpeng sendiri dan lebih banyak memesan. Biayanya juga sebenarnya cukup mahal dengan memesan jika dibandingkan membuat sendiri.

Tumpeng bisa terbuat dari nasi kuning ataupun nasi putih. Lauk-pauknya umumnya terdiri atas ayam goreng, urap, sambal goreng tempe, perkedel, telur dadar, dan sebagainya. Rupanya ada perbedaan tatanan uba rampe untuk nasi putih dan nasi kuning. Setelah saya baca buku ikon kuliner tradisional Indonesia, juga ada nasi tumpeng dari nasi merah, nasi pandan, dan nasi uduk. Menarik bukan?!

Untuk nasi kuning biasanya ditemani ayam bumbu rujak, ada juga yang menambahkan plecing kangkung di Lombok, ikan bakar rica di Minahasa dan kanaik alias tumis perut ikan di Dayak. Versi lengkap nasi kuning adalah ayam goreng, abon sapi, kering tempe, keripik kentang dan sambal goreng udang.

Sedangkan nasi gurih atau nasi uduk biasanya ditemani dengan trancam, perkedel nike, dan bebek nyatnyat ala Karangasem. Untuk nasi pandan bisa ditemani dendeng batokok, ayam lodho dan urap. Sedangkan nasi merah biasanya disajikan dengan sate lilit, beberuk terong, ikan pesmol. Teman-teman tumpeng itu biasanya melambangkan unsur darat, laut, dan udara.

Bentuk nasi tumpeng rata-rata kerucut karena memiliki makna khusus. Kerucut yang memiliki alas lebih lebar dan menyempit di bagian atas memiliki arti simbolisasi alam semesta dengan Tuhan di puncak, namun ada juga yang memaknainya sebagai simbol topografi alam Indonesia yang memiliki banyak gunung.

Berdasarkan buku yang dirilis Kemenpar ini, tumpeng dihadirkan dalam tiap ritual pelintasan, yakni dari sejak kelahiran hingga kematian, juga upacara syukuran, permohonan perlindungan, ruwatan, kehamilan, dan upacara lainnya. Ubarampenya juga bisa disesuaikan dengan tujuan acaranya. Salah satu contohnya, untuk pitulungan atau memohon bantuan maka lauk-pauknya harus ada pitu atau tujuh macam.

Tumpeng ini bisa disantap rame-rame alias megibung atau dahar kembul tapi juga bisa disajikan secara perorangan lewat piring. Oleh karena tumpeng merupakan makanan yang penuh makna maka santapan ini dijadikan pengikat ke-30 ikon kuliner tradisional Indonesia. Oh ya makanan ini sudah ada sejak jaman dulu. Usianya diperkirakan sudah lebih dari lima abad.

Nah, pada peringatan tujuhbelasan di kampung sudah tiga tahun ini dihadirkan tumpeng yang dibuat oleh warga tiap RT. Setelah dilombakan maka tumpeng ini siap disantap rame-rame bersama seluruh warga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar