Senin, 26 September 2016

Ramainya Pedagang Makanan Keliling Dulu


Entah sejak kapan aku menyadari pedagang makanan keliling semakin sepi yang melewati rumah orang tua di Malang. Kata ayah gara-gara ada portal yang ditutup setiap jam 10 malam menyusahkan mereka untuk masuk dan pergi. Tapi sebelum jam itupun sudah tidak seramai dulu.

Apakah karena daya beli masyarakat yang terus menurun? Sepertinya hal tersebut juga bisa jadi alasan. Karena penghasilan tetap sementara harga bahan pangan dan makanan jadi terus melambung maka warga lebih mendahulukan dahulu kebutuhan pokok baru urusan jajan.

Dulu harga makanan dan aneka jajanan tidak semahal sekarang. Dengan uang saku dari ibu pun masih bisa jajan. Padahal uang saku juga tidak banyak sekitar 100-250 perak.

Aku masih ingat saat SD ibu memberi Rp 100,- . Dengan uang sebesar itu aku bisa membeli aneka kerupuk di kantin sekolah yang dihargai Rp 25,-. Es hunkwe yang berbentuk kotak dan berwarna mencolok pun juga sama. Beli segelas jamu beras kencur dan limun pun bisa dengan nilai tersebut. Kalau untuk kolak biasanya Rp 50,-.

Aku jarang jajan di kantin sekolah, tapi aku suka mengumpulkan uang dan sesekali membeli makanan di penjual keliling atau warung dekat rumah. Makanannya lebih mengundang selera.

Dari pagi hingga malam ada saja makanan lezat yang ditawarkan. Dari pagi hingga siang ada penjual kue cumcum, yaitu kue dengan lapisan pastri berbentuk contong dan isian vla yang nikmat serta kismis di atasnya. Ada juga pedagang susu KUD dengan aneka rasa susu yang segar dan nikmat. Susu ini dulu barang mewah di rumah karena ibu jarang membelinya selain susu kental manis. Dulu harganya saat saya sudah masuk SMP sekitar 300 perak. Dulu uang saku sudah naik jadi 250 perak. Jadi dua hari tidak jajan bisa membeli susu KUD rasa mocca atau melon yang enak. Kalau untuk susu murni setengah liter dihargai Rp 500,-. Kakak pertama suka banget membeli susu murni ini karena lebih creamy.

Ada lagi penjual bacang, kue seperti lemper berbentuk limas dengan isian daging cincang kecokelatan. Ini jajanan mahal dan lagi-lagi kakak perempuan yang lebih sering membelinya. Ia memang paling boros di antara kami bertiga untuk soal jajanan.

Oh ya ada lagi penjual dawet dan limun. Dawetnya ini menggunakan tepung beras dan pandan. Yang membuatnya khas dan makin enak adalah kehadiran buah nangka. Saya suka banget nangka jadinya nangka ini saya makan di suapan terakhir. Dulu dawet ini langganan kami. Nenek suka banget membelinya tapi kemudian ada kabar buruk penjualnya meninggal tertabrak. Kami sangat kehilangan dan akupun hingga kini masih bisa mengingat rasa dawetnya yang segar.

Pedagang limun hadir sekitar dua tahun di gang kami. Ia menjual aneka limun murah meriah, segelas hanya 25 perak. Selain limun ia juga menjual kue-kue seperti bakpau, kue lapis, jongkong  kue moho, atau roti kukus dari tepung beras. Jajanannya kurang menarik tapi kue limunnya ini cocok menemani saat cuaca panas.

Oh ya di mlijo atau tukang sayur ibu-ibu yang menyunggi dagangannya di atas kepala itu kadang juga tersedia kue-kue. Kue favorit saya dan ibu adalah kue onde-onde dengan isian kacang merah. Wuiiiih enak banget perpaduan gurih dan legit. Asli deh satu buah tidak cukup. Rasa onde-onde kacang merah ini mengalahkan onde-onde kacang ijo yang dijual oleh kakek dengan topi baret.

Oh iya ada juga pedagang gula kapuk, tapi ini jarang lewat. Ada pula pedagang gula-gula dengan memainkan sitar. Nama kuenya arbanat tapi lebih terkenal dengan sebutan rambut orang meninggal. Itu tuh kue berupa gula-gula keras seperti lidi berwarna merah muda. Eh si Ovi doyan banget dengan kue ini hingga sekarang.

Ada juga penjual es campur keliling tapi agak mahal dan rasanya kurang enak. Ada lagi penjual bubur Madura. Nah ini lezat banget. Ada sumsum, mutiara, ketan hitam, dan grendul alias bijih salak. Wah enak banget sayangnya penjualnya suka kurang ramah jika pembelinya anak-anak. Bukan apa-apa sih, ia juga menyunggi dagangannya di atas kepala dan ia kesulitan menurunkannya jika pembelinya anak-anak. Jaman dulu memang banyak pedagang perempuan yang meletakkan dagangannya di atas kepala dengan meletakkan bantalan dulu. Duh pastinya sangat berat.

Saat sudah SMA ada juga penjual siomay. Tapi jajanan ini dulu belum beken di Malang. Kakak yang paling doyan dan suka membelinya.

Oh ya ada juga lho penjual es tung tung. Ini favorit saya. Ada penjual yang kreatif dimana es rasa cokelatnya benar-benar asli cokelat bukan sepuhan. Ada juga yang menjual es podeng. Isiannya ada irisan roti tawar, alpukat, mutiara lalu ditimbun dengan es krim dan ditaburi misim beserta susu kental manis. Wuiih lezat banget. Dulu jika tabungan lumayan saya suka membelinya.

Ada lagi penjual kacang kuah. Tapi saya hanya melihatnya sekali. Waktu itu saya dan kakak kabur dari tidur siang dan melihat ada pedagang menawarkan kacang kuah. Kami bengong karena baru kali itu mendengarnya. Lalu kami membeli semangkuk berdua, harganya 200 perak. Isiannya hanya kacang dan irisan roti dengan kuah santan manis beraroma samar jahe. Ia juga menjual cakue sebagai tambahan. Rasanya lumayan enak. Ia menggerutu karena dagangannya sepi. "Jajan enak-enak ngene, kok ga ditukoni.. " (Jajan enak kayak begini kok sepi tidak padha beli).

Yuk lanjut ke menu pedagang sore hari hingga tengah malam.

Wah-wah-wah pastinya dagangannya jauh lebih beragam daripada saat pagi hingga siang hari sejak pukul 14.00 pedagang bakso sudah padha berseliweran. Jumlahnya sangat banyak, dari bakso pikulan dan yang menggunakan gerobag. Rata-rata enak dan yang paling beken adalah pedagang bakso yang menawarkan bakso urat dan bakso isian telur. Asli, uenak. Ada juga yang menambahkan jerohan seperti babat dan paru, tapi jarang ada. Sebagai kota bakso dulu Malang memang lekat dan bersahabat dengan pedagang bakso keliling.

Nah berikutnya ada tahu campur dan pangsit. Tahu campur memiliki isian daging agak alot dan perkedel singkong yang kata kakak bernama menyok. Rasanya enak dan segar dengan adanya selada di dalamnya. Pangsit ini juga enak, lebih sedap daripada mie ayam dan lebih segar. Ayamnya dicincang seperti bubuk dan ada sayuran berupa sawi dan disantap bersama kerupuk pangsit. Nyam..nyam..nyam.

Kemudian ada penjual pecel dan sate ayam. Pecelnya enak dan murah meriah. Beli 250 perak juga boleh dan pelanggannya biasanya saya dan nenek. Kalau sate ayam saya kurang suka, tapi ibu biasanya membelinya jika sedang lelah memasak. Ibu sangat sedih ketika tahu penjual sate ayam langganannya meninggal.

Ada juga tahu campur dengan tahu, tauge, lontong, kerupuk disiram bumbu kacang yang gurih. Kakak kedua sangat menyukainya dan ia paling suka tahunya setengah matang.

Agak malaman ada penjual angsle merangkap ronde dan pedagang kacang. Angsle itu enak banget dicampur ronde dan pedagangnya baik hati saya memperoleh harga yang sama untuk kombinasi angsle dan ronde. Bulatan rondenya itu enak banget.

Di pedagang kacang ada kacang rebus dan garing. Yang paling mantap gula kacangnya. Kacangnya royal bertaburan di atas gula merah yang membeku. Nenek kadang membelinya karena kasihan dan memang makanannya murah. Beli 200 perak bisa dapat kacang rebus yang banyak.

Lebih larut lagi adalah waktunya pedagang bakmi dan nasi goreng, juga penjual es puter santan. Aneh ya kenapa jual es malam-malam. Es puternya gurih terbuat dari santan dan irisan kelapa muda. Sedangkan bakmi dan nasi gorengnya biasanya hingga jam 1 dini hari pun masih lewat. Biasanya mereka berdua berjualannya tapi sekarang sudah tak terdengar lagi suaranya yang khas.

Gambar dari sini




Tidak ada komentar:

Posting Komentar