Sabtu, 03 September 2016

Lembutnya Puding Si Pencuci Mulut


Puding banyak disuka sebagai kudapan ataupun pencuci mulut. Teksturnya yang lembut seperti meluncur ke tenggorokan juga penampilannya yang menarik membuat puding disukai anak-anak hingga kaum dewasa. Akan tetapi puding rupanya bukan hanya terbuat dari rumput laut, ada berbagai variasi dari puding. Puding bukan hanya direbus lalu didinginkan, ada juga yang dikukus dan dipanggang lho.

Saya penyuka berat puding. Agar-agar dimasak dengan susu atau santan lalu didinginkan di cetakan lucu-lucu seperti beruang, ikan, bebek, bunga, dan macam-macam. Terkadang sebelum benar-benar membeku sempurna, saya dan kakak sudah menyantapnya, Istilahnya masih jadi kain atau setengah membeku. Bahkan panci perebusnya kadang saya bersihkan dengan sendok hehehe.

Waktu SD dan acara masak kami pernah membuat puding lapis yang unik. Lapisan pertama dari santan, agar-agar, dan gula merah. Lapisan berikutnya dari tape singkong. Saya lupa lapisan berikutnya. Rasanya sedap dan gurih.

Sedangkan waktu SMP kami diajarkan membuat puding lumut. Untuk menghasilkan kesan lumut maka telur dikocok hingga berbusa lalu ditambahkan daun suji. Rasanya ada unsur krenyes-krenyesnya.


Custard Cokelat. (Buku Puding)

Triffle Stroberi (buku Puding)
Puding busa itu gampang-gampang susah. Kadang unsur busa atau sponsnya itu tipis karena telur yang dikocok kurang mengembang. Membuat puding lapis juga begitu, kadang lapisannya terpisah atau malah tercampur karena ketika hendak dilapisi, bagian bawahnya sudah beku atau malah masih hangat.

Umumnya puding dicampur buah-buahan dan roti tawar. Saya kurang suka agar-agar dicampur roti tawar, rasanya kurang enak. Kadang jika tidak ada agar-agar, juga bisa membuat puding dari hunkwe ataupun tepung maizena. Rasanya tidak seenak agar-agar tapi lumayanlah.

Rasa puding dari rumput laut asli juga unik. Ada aroma dan rasa yang khas. Saya suka sih jika tidak begitu banyak. Biasanya nenek membelinya di pasar dengan warna putih dan cokelat. Tapi jika banyak, rasanya agak aneh hehehe.

Yang sekarang banyak dijual di pasar adalah bubuk konyaku yang membuat tekstur puding seperti jeli. Kata teman saya Ika yang pandai memasak, puding juga bisa dibuat dari gelatin dengan cara dilelehkan dan hasilnya ada yang menyebutnya panacotta. Custard yang terbuat dari telur dan susu juga bisa disebut puding. Nah, custard ini juga bisa dikukus atau dipanggang. Tekstur custard dan panacotta ini lebih lembek sehingga biasanya ditaruh dalam wadah dan disantap dengan sendok. Oh ya ada juga adonan mirip custard yang disebut mousse.

Ada juga puding yang bernama triffle. Triffle ini umumnya berupa bolu yang kemudian disusun berlapis-lapis dengan selai dan krim kocok juga ditambahkan buah-buahan seperti stroberi. Ada pula puding yang menggunakan kue lidah kucing atau ladyfinger. Lidah kucing ini ditata rapi berdiri mengelilingi adonan agar-agar yang telah membeku lalu bisa ditambahkan es krim atau krim kocok. Untuk nama sajiannya, ada yang menyebutnya Charlotte.

Di luar negeri sendiri puding lebih beragam. Adonan roti tawar dengan susu yang dipanggang juga bisa disebut puding hanya teksturnya umumnya lebih rapuh dan lembut dibandingkan bolu biasanya dan disantap dengan sendok. Daging sapi yang dibungkus adonan pai juga bisa disebut puding di Eropa.

6 komentar:

  1. Hmmmmm aku sukkkaaak banget sama puding....

    BalasHapus
  2. Alahmaaaak, puding.... :D saya doyan banget ini ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Amanda salam kenal. Puding memang disukai oleh berbagai kalangan usia. Tapi saya baru tahu jika jenis puding banyak, termasuk ada yang gurih.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Yup nikmat jadi pencuci mulut. Terima kasih sudah singgah mba Gesang:)

      Hapus