Rabu, 07 September 2016

Ketika Susah Makan di Luar Negeri


Saat menghadiri acara Kompas Gramedia Value Card Member Gathering, narasumber diskusi, Jeff dan Diana berbagi cerita tentang cara mereka survive di luar negeri terutama dari segi makanan. Suami yang baru bertolak selama berbulan-bulan di Eropa juga memberikan tipsnya.
Memang sih ke luar negeri rasanya kurang mantap tanpa menyantap makanan lokalnya. Namun, adakalanya santapan tersebut tidak cocok di lidah dan perut. Belum lagi harganya yang menguras kantong. Oleh karena icip-icip biasanya sekedarnya, hanya memuaskan rasa ingin tahu.

Masakan Indonesia memang juara itulah yang biasa dikemukakan oleh mereka yang berlibur atau menetap di luar negeri. Kata Jeff dan Diana, mereka suka membawa selai dari Indonesia dan di luar negeri biasanya mereka membeli roti tawar. Roti plus selai sudah cocok bagi mereka dan jelas lebih hemat.

Suami berkata harga makanan di Eropa sangat mahal. Yang paling murah adalah kebab dan karena ukurannya besar maka bisa disantap dua kali dan dipanaskan di microwave.

Sebelum berangkat pasangan membawa beberapa mie instant, aneka bumbu siap saji, sambal terasi dan sambal masak kemasan, juga rendang sapi kemasan yang pernah saya ulas. Seminggu dua minggu ia merasa homesick dan mengobati kangen dengan makanan yang saya bawakan. Setelah itu bahan pangan pun ludes, apa yang harus dilakukan?

Untunglah ia disediakan apartemen. Ia juga membawa rice cooker mini. Jadinya tiap minggu ia belanja. Ada telur, susu, dan terkadang ikan segar. Lalu ia sering membeli keju, prata, dan juga bumbu tom yang siap jadi. Ya, ia menjadi koki untuk dirinya sendiri. Kata Ovi, sambal terasi dan sambal masak yang ia bawa cukup banyak sangat membantu dalam memasak. Asal ada sambal ia tinggal masukkan telur atau ikan, jadi deh.

Ada sih mie instan Indonesia di Berlin, tapi harganya cukup mahal. Jika capek memasak maka ia pun membeli roti tawar ataupun cereal untuk disantap dengan susu. Pernah beberapa kali ia bersantap di kedai. Sekali makan bisa Rp 70-100 ribu sendiri.

Lain pula pengalaman temenku saat aku berjalan-jalan dengan mereka ke Vietnam dan Thailand. Ada yang membawa brownies, abon, dan dendeng sapi, kering tempe dan teri. Ada yang membawa stok aqua botolan satu dus karena kuatir harga air mahal seperti di Singapura. Ada juga yang membawa berkotak-kotak susu karena ia tak bisa lepas dari susu cair merk tertentu.

Kalau saya biasanya jaga-jaga dengan roti dan biskuit. Kadang juga membawa minuman kopi instan untuk mengobati kangen.

Saya termasuk mudah beradaptasi. Saat ke Thailand memang masakannya relatif mudah diterima, kecuali waktu di Phuket dimana nasi di restoran fast food begitu kering seperti nasi untuk nasi goreng. Mahal lagi. Begitu pula waktu di Vietnam. Aduh susah sekali menemukan makanan halal. Akhirnya waktu di Phuket dan India saya lebih banyak membeli masakan India. Untunglah masakan Indianya tidak sepekat bumbunya seperti masakan India aslinya. Kisah tentang masakan India di negeri aslinya mungkin nanti saya kisahkan.

Ya yang dapat saya sarikan di sini lebih baik mempersiapkan diri daripada sakit perut dan malah kelaparan. Yang biasanya dibawa untuk jangka pendek adalah roti dan biskuit. Kalian juga bisa membawa cereal instant dan air minum sendiri karena di beberapa negara air kemasan memang mahal. Untuk jangka panjang Kalian bisa membawa abon, dendeng, kering tempe, sambal goreng teri, sarden, tuna kemasan juga rendang kemasan. Jika bisa memasak tak ada salahnya membawa bumbu siap masak dan mie instan.

Selamat berlibur ke negeri seberang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar