Senin, 08 Agustus 2016

Saatnya Dunia Tahu Indonesia Kaya Makanan Nikmat


"Makanan Indonesia memang sudah lama enak. Saatnya dunia juga tahu, kita punya banyak makanan enak."
Membahas makanan tradisional Indonesia itu seru dan memang tiada habisnya, karena Indonesia begitu kaya akan keragaman makanan dan realitanya masih banyak makanan lokal yang kurang populer di tengah masyarakat. Nah, di acara Talkshow Petualangan Kuliner yang menghadirkan Jalansutra dan Jakarta Food Adventure (JFA) ini, blogger dan masyarakat umum diperkenalkan dengan beragam kekayaan kuliner yang informasinya belum banyak tergali. Apa sajakah itu? Yuk simak artikel berikut hingga tuntas.

Atrium Mall Bassura City penuh sesak oleh blogger dan pengunjung umum yang tertarik mengikuti talkshow seputar kuliner. Panggung meriah oleh warna merah putih yang merupakan pertanda sebentar lagi Indonesia akan dimeriahkan oleh hari kemerdekaan dan selaras dengan tema Indonesia is Me yang diusung Mall Bassura City untuk rangkaian acara yang dihelat 1-31 Agustus 2016 oleh Synthesis Development, pengembang Mall Bassura City.

Sebagai pembicara pertama, Harry Hardianto Nazarudin yang memiliki nama populer Harnaz Tagore bercerita tentang berbagai kuliner langka bersama Lidia Tanod. Keduanya merupakan perwakilan Jalansutra, yaitu komunitas pecinta kuliner yang digagas oleh bapak "maknyus" Bondan Winarno.

Hanaz dan Lidia dari Jalansutra Jalansutra mengenalkan kuliner yang kurang populer 

Yang diangkat adalah makanan yang bagi saya sendiri benar-benar asing, yaitu semacam jamur yang hanya tumbuh pada musim tertentu di Bangka. Namanya, Kulat Pelawan. Kulat dalam bahasa Bangka berarti jamur, sehingga Kulat Pelawan adalah jamur kayu yang tumbuh di hutan Pelawan, Bangka.

Jamur ini menjadi unik karena jamur ini hanya tumbuh pada musim-musim tertentu dimana memerlukan petir untuk memicunya agar tumbuh. Setahunnya hanya dua kali panen. Oleh karena langka maka jamur ini dihargai sangat tinggi di Bangka, antara Rp 1-1,5 juta. Wow! di Jakarta dan luar negeri harganya pasti jauh lebih mahal.

Jamur dari Palawan bisa bernilai 1,5 juta...wow!!!

Setelah dipanen, jamur ini dikeringkan dengan metode pengasapan sehingga rasa, aroma, dan teksturnya itu khas. Biasanya jamur ini diolah menjadi lepah oleh masyarakat Bangka.

Lepah sendiri mirip gulai ala Padang, ada yang bersantan dan ada juga yang tidak bersantan. Paling mantap dan paling umum sih menggunakan santan, jelas Lidia, dengan bumbu sederhana seperti kunyit, cabai, bawang, dan garam. Rasanya nikmat dan khas karena tekstur Kulat yang kenyal-kenyal padat dan aroma asapnya.

Ada juga bahan masakan unik dari sejenis rumput laut yang disebut Latoh oleh warga Lasem atau Bulung oleh warga Bali. Latoh ini juga langka karena musiman, hanya ada sekitar bulan Oktober-November.

Menurut Harnaz, Latoh ini umumnya dibuat urap-urap di Lasem yang lokasinya dekat Rembang. Namun, di Bali lebih dikenal dengan cara dimasak ala rujak. Oleh karena populer di kalangan masyarakat Lasem, maka Latoh ini menjadi salah satu motif batik yang disebut Latohan.

Urap Latoh vs Rujak Bulung

Terkait dengan mengenalkan kuliner Indonesia ke tingkat dunia, sebenarnya kuliner Indonesia sangat potensial karena kelezatannya telah terakui dengan rendang daging sapi yang pernah masuk menjadi juara masakan terlezat. Nasi goreng juga sangat populer sebagai masakan khas Indonesia.

Harnaz mencontohkan negara Spanyol yang berjuang mengenalkan kekayaan kulinernya dengan revolusi molecular gastronomi yang digagas Ferran Adria di restorannya, El Bulli. Berkat upayanya dan dukungan pemerintah Spanyol, kuliner Spanyol masuk deretan Haute Causine (kuliner prestis), berdampingan dengan Perancis. Bahkan, daftar tunggu untuk bersantap di El Bulli mencapai enam bulan.

Upaya menaikkan gengsi juga mulai digagas oleh berbagai pengusaha kuliner dan hotel di Indonesia. Di antaranya boutique hotel Tandjung Sari di Sanur dan toko kue Mama yang mengemas masakan dan kue-kue Indonesia menjadi cantik, prestis, dan mengundang selera.

Juga ada nama Wiliam Wongso. Untuk menaikkan gengsi ia menggunakan daging wagyu sebagai bahan utama rendang. Ia juga mengenalkan Naniura, masakan khas Batak ke pasar internasional.

Sebagai penutup, Harnaz dan Lidia menekankan bahwa mengenalkan masakan Indonesia dengan promosi itu penting dan lebih baik dilakukan bersama-sama dengan melibatkan pemerintah Indonesia. Tidak perlu mengenalkan 33 ikon kuliner sekaligus, tapi bisa bertahap dengan beberapa jenis dulu. Harnaz mencontohkan Thailand yang beken dengan Tom Yam. Tidak banyak jenis masakan Thailand yang dikenal, tapi dunia tahu Tom Yam dari Thailand dan tahu bagaimana cara memasaknya.

Untuk kemasan, memang penampilan itu penting agar mengundang selera dan menarik. Rasa juga perlu disesuaikan dengan citarasa internasional. Karena yang kita rasa enak, belum tentu enak untuk lidah orang luar, jelasnya.

Ira Lathief dari JSA mencoba memperkenalkan keunikan kuliner Indonesia ke wisatawan asing

Ira Lathief dari Jakarta Food Adventure memperlengkap penjelasan perwakilan Jalansutra dengan mengenalkan programnya yang berupaya memperkenalkan kuliner Indonesia dari segi sejarah, tradisi dan citarasa baik kepada warga Jakarta maupun wisatawan lokal dan asing. Ada banyak hal-hal menarik tentang kuliner di Indonesia yang kiranya belum diketahui secara luas.

Ia mengaku kecewa melihat rendang yang mulai dilirik Singapura dengan menjadikannya burger rendang. Sementara warga Indonesia seperti sudah berpuas diri dan kurang gencar lagi berpromosi setelah rendang ditetapkan menjadi masakan terlezat beberapa tahun silam.

Lewat JFA, ia mengenalkan keunikan kuliner di Indonesia seperti Starling yang merupakan singkatan starbuck keliling atau penjual kopi keliling dengan sepeda dan mengenal pengaruh negara asing dalam kuliner Indonesia, seperti metode pengasinan ikan yang meniru Portugis, kue Cubit yang mengadaptasi Poffertjes dari Belanda, Pindang Serani yang dulunya Pindang Nasrani dari Portugis, dan sebagainya.

Pengaruh dari negara asing tersebut membuat kuliner Indonesia makin kaya dan beragam. Hingga saat ini pengaruh masakan dan tradisi dari warga negara asing yang kemudian menetap di Jakarta bisa dilihat di Kampung Tugu untuk Portugis, Arab di Cikini, dan India di Pasar Baru.

Ira Lathief memungkasi penjelasannya dengan menekankan perlunya makanan yang ikonik, cerita yang bagus dan menunjang, kemasan yang cantik, dan promosi yang gencar untuk mengenalkan kuliner tradisional ke pangsa internasional.

Gerbang Masuk Festival Kuliner Indonesia is Me

Setelah mengikuti talkshow, kami oun diajak berkeliling untuk icip-icip kue dan masakan tradisional. Total ada tujuh jenis makanan yang disajikan di Festival Kuliner yang masuk rangkaian acara Petualangan Kuliner Indonesia. Ada Sayur Babanci dari Betawi, Martabak Rendang, Pisang Udang dan Ketan Unti dari Kampung Tugu, Timpan dari Aceh, Es Pallubutung dari Makassar, Lampet dari Batak, dan Kopi Talua dari Sumatera Barat.

Stan Sayur Babanci dari Betawi
Di stan pertama, saya mencicipi empat jenis makanan. Sayur Babanci atau yang juga disebut Ketupat Babanci merupakan masakan populer Betawi yang sudah mulai langka. Masakan ini tidak jelas antara soto, kare, atau sayur karena tidak ada sayurnya. Isinya adalah potongan ketupat dan daging dimana biasanya ada irisan kelapa mudanya. Bumbunya terdiri atas 17 jenis dimana beberapa di antaranya sudah sulit dijumpai. Saat ini Sayur Babanci biasa disajikan masyarakat Betawi pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Kalau dari segi rasa sih rasanya sedap dan mirip-mirip Soto Betawi dan Laksa.

Kue Timpan dengan sarikaya yang legit
Berikutnya saya icip-icip kue Timpan dari Aceh yang konon merupakan makanan para raja. Kue ini saat ini biasa disajikan saat pernikahan dan khitanan. Rasanya manis dan nikmat seperti perpaduan kue Bugis dan Sarikaya.

Kue Lampet yang mirip kue Putu
Kue yang juga berdaun pisang satu lagi dengan bentuk limas adalah Lampet. Kue ini khas Batak Tapanuli. Ketika dibuka bentuk dan rasanya mirip dengan kue Putu tapi teksturnya lebih padat. Sama seperti Putu, dalamnya juga ada gula kelapanya.

Yang terakhir adalah es Pallubutung. Es ini mudah dijumpai dan mirip dengan es Pisang Ijo, bedanya tidak ada pisang yang dibalut dengan kulit tipis berwarna hijau. Di dalamnya ada bubur sumsum dan sirup berwarna merah yang harum. Rasanya manis dan segar.

Es Pallubutung yang Segar
Berikutnya kami pindah ke stan berikutnya dimana kami icip-icip tiga jenis kue dan satu minuman hangat. Tiga jenis kue itu adalah Martabak, Pisang Udang dan Ketan Unti. Untuk Martabak dan Ketan Unti masih mudah dijumpai di berbagai tempat. Ketan Unti sejenis ketan dikukus dengan topping berupa kinca atau paduan kelapa parut dan gula kelapa. Rasanya gurih dan legit. Kue Pisang Udang itu unik antara kue Nagasari tapi gurih berkat tambahan udang di dalamnya.

Nah minuman yang baru kali ini saya cobai adalah Kopi Talua. Kopinya unik membuat saya asyik menyaksikan proses pembuatannya. Caranya, bubuk kopi, gula dan telur dikocok hingga berbusa. Lalu ditambahkan air panas, diberi susu kenyal manis dan ditaburi bubuk cokelat. Rasanya agak kemanisan untuk ukuran saya, tapi setelah ditambahkan air maka rasanya pas dan nikmat dengan tambahan busa dari telur yang membuat minuman ini unik dan khas.

Proses membuat Kopi Talua

Kopi Talua yang Unik dan Nikmat

Wah senang juga mengikuti acara ini, meskipun acaranya ada beberapa keterbatasan, namun wawasan saya akan kuliner tradisional menjadi bertambah. Saya menantikan lagi acara siraman wawasan kuliner sehingga kuliner tradisional bisa tetap eksis dan lestari. Salam lestari kuliner nusantara!

Rangkaian Acara Indonesia is Me


Tidak ada komentar:

Posting Komentar