Rabu, 31 Agustus 2016

Kuliner dalam Fiksi


Masakan dan aneka minuman bukan hanya nikmat dinikmati oleh indera pengecap. Kuliner juga sedap dirasa oleh kombinasi indera penglihatan dan imajinasi yaitu melalui karya fiksi. Fiksi kuliner mungkin itulah yang bisa disematkan pada karya-karya fiksi yang banyak menempatkan makanan dalam cerita.

Waktu kecil saya sangat suka membaca buku-buku karya Enid Blyton. Salah satu alasannya selain kisahnya yang memang menarik adalah adegan makannya. Yang sering disebut di buku dongengnya adalah puding madu sedangkan yang suka nongol di buku-buku petualangan di antaranya limun jahe, sarden, aneka sandwich, kue jahe, telur rebus, dan cake buah.

Dongeng anak lainnya adalah Emil yang cerdik dan Pippie yang kocak. Emil sangat suka sosis dimana bahannya bukan melulu dari daging sapi, tapi dari bahan lainnya. Sedangkan Pippie meskipun serampangan sangat pandai memasak seperti membuat kue dadar yang enak dan aneka tarcis.

Nah, yang paling banyak mengupas makanan adalah serial Little House dengan tokoh utamanya Laura Ingals Wilder. Hemmm ada begitu banyak makanan yang kuingat ada es krim telur, roti kepang jahe, sup kacang merah, puding kepala yang membuat orang suka bersin, aneka keju dan mentega buatan sendiri, kacang panggang, donat, apel dengan bawang goreng dan gula cair, panekuk dengan gula cair, ikan goreng tepung, dan pastel burung hitam. Hemmm sedap...

Dari kubu penulis Indonesia yang doyan menyisipkan makanan adalah Umar Kayam. Dalam bukunya Makan ga Mangan Kumpul penggeng ayam dan sate usus sering disebut-sebut. Ada juga pasutri yang gemar membawa sayur asem dan aneka lalapan dari kebun sendiri. Maknyus ketika membaca novel ini.

Ketika kuliner mulai beken, ada berbagai cerita pendek berhiaskan makanan seperti yang banyak tertuang di Femina. Alhasil kue-kue itu bukan hanya nikmat disantap tapi juga dibayangkan lewat karya fiksi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar